NELAYAN-KU

NELAYAN-KU

DSC_0009

Dia begitu bersemangat, wajahnya tersenyum dan penuh harapan. harapan untuk mendapatkan ikan

Nelayan-ku sudah ada sedari dulu

Bilangnya dulu ikan mudah ditangkap.
Sekarang.. ada dan mudah ditangkap.. . SAMPAH

tangannya kuat dan kakinya yang kokoh. kedua tangan digunakan untuk melemparkan jaring, kakinya sebagai tolakan.

Tampak ia selalu tersenyum.
walaupun aku tahu pasti dia hanya menangkap banyak SAMPAH dan sedikit ikan

NELAYAN-KU tak pernah mengeluh dan tak kenal rasa sakit..

DSC_0005

aku tahu 1 hal dan ini pasti yang nelayan-ku rasakan..
dia menyalahkan kita orang kota atas SAMPAH SAMPAH ini, orang kota yang bisanya cuma omdo dan berperilaku sesuka hati

tapi buat apa marah toh NELAYAN-KU tak pernah didengar suaranya.. bahkan dengan pemerintah sekalipun.

DSC_0010

NOTE : KENANGAN

AMQCMANNPOST

Hidup adalah rangkain dari peristiwa peristiwa. Peristiwa masa lalu disebut kenangan, peristiwa yang akan datang adalah takdir.

Yang aku tuliskan saat ini mengenai kenangan peristiwa besar dalam hidupku. Saat aku menginjak umur 5  tahun.


Terlahir sebagai pemilik bintang capicorn,dan sebagai status anak bungsu. sebenarnya tidak ada yang kurang dalam tubuhku. Semua normal seperti manusia lainya..

Sampai itu berubah saat diusiaku 5 tahun.

Hari itu sore hari dipasar palur.

Seperti biasa ibu berbelanja dengan membawaku. Saat aku memasuki pasar belum terasa ada hal aneh yang kurasan. Setelah beberapa saat kemudian aku berjalan menulusuri pasar, tampak beberapa pedagang dan para pembeli pasar yang terus menerus melihatku. aku merasakan, sepertinya ada hal yang aneh dengan diriku. tapi aku acuh tak memperdulikan. Tapi mereka terus melihatku sampai akhirnya aku memikirkan sebuah pertanyaan, ‘emang aku kenapa?’ . Aku terus berjalan dengan tangan kananku yang berpegang erat dengan baju ibuku. Entah.. tapi saat aku melihat ibuku, dia terlalu cuek untuk menyadari ini. Dia terus membawaku ke tempat kios kios kebutuhan rumah. Aku tak tahu apa yang terjadi denganku saat itu, aku hanya berusaha untuk tidak menatap mereka dengan memandang kebawah dan tak menoleh kebelakang. Sampai akhirnya ibu selesai berbelanja, aku tak menanyakan apapun kepada ibu-ku, aku hanya ingin pulang dan melupakan hal tadi.

Minggu, sehari setelah hari itu.

Terbangun dipagi hari, berjalan menuju halaman depan. Melihat apakah ada taksi bapak. Uh.. ngga ada ternyata bapak kemaren malam tidak pulang. Tapi disitu ada kakak perempuanku dan ibu. kakak menggowes sepeda barunya, ia tampak riang dengan baju ridur yang ia kenakan. Ibu duduk diteras rumah, mengawasi kakakku dengan sesekali melihat keatas. Aku berjalan menuju teras untuk duduk bersama ibu. ‘oh bal wes tangi, pengan mangan?’ ucap ibuku, ‘pengen’ dengan sopan aku membalas pertanyaan ibu. ‘yowes tak masak.’ Ibu bergegas masuk kedalam rumah. Aku melihat kakakku ia berputar putar dihalaman depan, melintas melewatiku dengan acuh seperti tak melihatku, dan tak menyapaku. Tak pernah.

Beberapa saat kemudian ibu pun datang dari arah belakang, menyuruh kakakku berhenti. Untuk segera pergi ke warung sayur yang berada di pertigaan jalan komplek. Memberitahu kakak untuk membeli kecap di warung itu, karena kecap dirumah yang sudah habis. Kakakpun dengan memakai muka manyun, merasa terpaksa. Pergi ke warung itu. Setelah itu ibu masuk lagi kedalam rumah, ‘sabar ya’ , ‘nggeh.’

Tak lama kemudian, dari kejauhan tampak kakak dengan tergesa gesa masuk kedalam gang, mengayuh sepeda sangat kuat dan cepat. Aku melihatnya berbelok dengan tajam menuju ke arah halaman depan. Kedua kakinya menyeret tanah, dengan kedua tangan yang memegang erat tuas rem. Dengan nafas yang terenga-enga, dia menatapku dengan tatapan sinis. Lalu berteriak memanggil ibu untuk keluar, Keras dan nada tinggi.

Ibu keluar dan bilang “opo? Mbok ojo banter banter la ngomong. Ndi kecap’e ?.” kakak pun menghela nafas dan aku masih diam ditempat aku duduk. Dia berkata “BU. Sebener’e adek loro opo toh? Kok kabeh wong neng warung ngomongke ade”. translate : “BU. Sebenarnya ade sakit apa sih, sampai semua orang di warung sayur membicarakannya.” Dengan cepat ibu berucap “ssssttt” dengan mata mengedip satu kali. Sesaat sesudahnya pertanyaan itu datang kembali, pertanyaan ‘emang aku kenapa?’ terus menerus kupikirkan. Walaupun ibu sudah merayuku, untuk tidak memikirkan hal itu.

Pertanyaan itu terus menerus kupikirkan, tapi aku tak berani untuk bertanya kepada siapapun. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berdiri didepan kaca. Tampak tak ada yang aneh pada saat itu. Sebenarnya itu umum, penglihatan manusia di umur 5 tahun masih samar samar. Belum bisa membedakan suatu benda.

Setahun sesudahnya. Aku memutuskan untuk tidak memikirkan itu lagi.

Umur 6tahun,setelah lulus dari tk aisyah. Lagi.. ibu dan bapak memutuskan untuk menyekolahkanku di dekat rumah nenek dan kakek. Pertanyaan itu masih didalam pikiranku, tapi aku memilih untuk menutup rapat rapat menjadkan sebuah rahasia.

BERSAMBUNG..